Ada apa dengan Falcao?

Saat pemain bintang lain menginginkan karir yang terus menanjak dengan bergabung bersama tim yang lebih besar, besar, dan semakin besar, seorang Falcao justru terjerumus disitu-situ aja, terjerumus di dalam dekapan tim medioker.

Jadi Manchester United tim medioker nih? Emmm, selepas Ferguson sih iya. Tanpa melihat sejarah mentereng United, jika dilihat dari performa tim saat ini, agak sulit rasanya menyebut Manchester United adalah tim papan atas. Eh tapi gak tau loh, setelah bergabungnya pemain ternama macem Falcao, Di Maria, dan Blind apakah MU masih gitu-gitu aja apa gimana.

Oke balik lagi ke Falcao! Falcao ini memulai karir sepakbolanya di lapangan depan rumahnya selagi ia masih duduk di bangku Paud  (satu tingkat dibawah TK). Melihat bakat gemilang yang dimiliki anaknya, orang tua Falcao lalu mendukung penuh karir anaknya sebagai pesepakbola.

Bergabung Dengan  Lanceros Boyaca (1999-2005)

Lanceros Boyaca merupakan tim profesional pertama Radamel Falcao. Tempat dimulainya karir seorang Falcao. Lanceros Boyaca ini bukan tim besar, mereka cuma tim kelurahan asal Kolombia, yang bermain paling tinggi nih ya, paling tinggi, di kasta kedua Liga Kolombia. Sekarang aja kita gak tau itu tim masih ada apa udah bubar.

Kemajuan Besar Bersama Riverplate (2005-2009)

Karir Falcao mengalami peningkatan besar setelah tim asal ibukota Argentina, Riverplate merekrutnya pada tahun 2005. Gimana cara Falcao tau-tau bisa nongol di Riverplate kita juga gak tau, tapi yang jelas pertama kali dia masuk Riverplate adalah melalui akademi pemain muda mereka yang bermain di kasta kedelapan Liga Argentina.

Melihat penampilan bagus Falcao, akhirnya pelatih Riverplate saat itu menariknya ke tim senior. Falcao membuktikan diri, ia tampil tajam dengan mencetak 34 gol dari 90 pertandingan Riverplate di Liga.

Memasuki zona Eropa bersama Porto (2009-2011)

Tim scouting Porto yang berada di Argentina ternyata diam-diam menyukai Falcao. Setelah mengevaluasi berbagai kemungkinan, akhirnya Porto resmi mendapatkan tanda tangan Falcao pada 15 Juli 2009 dengan nilai transfer sekitar 4 juta Euro.

Falcao tampil maksimal di berbagai ajang bersama Porto. Puncaknya adalah saat Porto kalah agregat 2-6 dari Arsenal pada babak 16 besar Liga Champion musim 2009-2010. Lah kok puncaknya? Ya iya, karena sejak saat itulah Falcao tak pernah tampil lagi di Liga Champion dan sejak saat itulah karir unik Falcao dimulai!

“Falcao bagaikan seorang pemain bayaran yang disewa hanya untuk mendongkrak performa tim medioker, mendesak posisi tim menuju papan atas klasemen. Setelah berhasil ia akan pergi, bukan ke tim yang lebih bagus  melainkan ke tim medioker lain yang sedang membutuhkan seorang pemain pendongkrak performa” Bung Tompel, analis sepakbola yang sampai saat ini masih jadi pengangguran.

Melihat apa yang dikatakan Bung Tompel, kita sebenernya agak ragu juga, tapi setelah diliat-liat kayanya iya juga sih! Kalian gak percaya? nih kita kasih alesannya:

Performa Gemilang Bersama Porto dan Kepindahannya ke Atletico Madrid (2011)

Porto berhasil menjuarai Liga Portugal pada musim 2010-2011, serta kembali masuk zona Champions. Porto juga berhasil memenangkan gelar Liga Eropa, setelah mengalahkan Braga di final dengan skor 1-0. Falcao adalah orang yang mencetak satu-satunya gol tersebut melalui tandukan rambut gondrongnya.

Pada akhir musim, Falcao merupakan salah satu pemain kunci klub yang banyak diminati klub besar. Bahkan Falcao saat itu sangat santer terdengar akan bergabung dengan Chelsea, tim kelas satu yang hobi buang-buang duit untuk investasi pemain.

Tapi apa yang terjadi adalah Falcao malah pindah ke tim angin-anginan asal Spanyol, ATLETICO MADRID.

Bergabungnya Falcao berhasil mendongkrak posisi Atletico Madrid di La Liga. Musim pertama Falcao, Atletico berhasil masuk zona Liga Eropa dengan menduduki posisi 5. Lalu pada musim berikutnya, Falcao berhasil membawa Atletico Madrid menembus zona Liga Champion dengan berada di peringkat 3, selain itu pada musim yang sama, Falcao juga memberikan titel Liga Eropa dan UEFA Super Cup untuk tim asal kota Madrid tersebut.

Hijrah ke Monaco (2013)

Naiknya performa sang rival Atletico, membuat Real Madrid geram. Seperti biasanya, Florentino Perez melakukan berbagai cara agar kekuatan Atletico berkurang, salah satunya adalah dengan keinginan membeli Falcao berapapun harganya. Tak hanya Madrid, Barcelona juga siap menampung Falcao, untuk menduetkannya di depan bersama Lionel Messi.

Tapi kemana Falcao hijrah?? Ke AS Monaco permirsa. AS Monaco! Tim yang saat itu baru PROMOSI ke divisi utama Liga Perancis.

Mengherankan bukan? Entah karena uang atau prinsip mediokers yang dipegang teguh Falcao hingga ia bisa-bisanya memilih Monaco ketimbang klub besar yang mengantri menginginkan tanda tangannya.

Transfer Saga 2013-2014

Seperti biasa, Falcao selalu bisa mengdongkrak performa tim yang dibelanya. Walau AS Monaco gagal menjadi kampiun Ligue 1, seenggaknya mereka bisa ngasih sedikit tekanan ke PSG dan dominasinya di Liga Perancis. Oh iya, Monaco yang berada di peringkat 2, udah jelas berhak atas tiket Liga Champions musim selanjutnya.

Performa Falcao yang konsisten membuatnya menjadi primadona lagi pada bursa transfer tahun 2014. Semua tim besar menginginkannya menjadi bagian dari tim. Hingga saat-saat terakhir, Real Madrid, Manchester City, Arsenal, dan Liverpool terus memburunya. Tapi apa yang terjadi? Manchester United menikung bagai teman merebut gebetan.

Yap, Manchester United tim yang sedang berada dalam krisis adalah tim yang dipilih Falcao. Kepindahan Falcao ini memang menghebohkan, terlebih dengan berita tentang gajih yang akan diterimanya yang dikabarkkan hampir mencapai 350 ribu poundsterling setiap pekan. Emm, 350 ribu Pounds itu setara dengan 6 miliar rupiah.

Jadi, pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah Falcao bisa kembali mengeluarkan magisnya dengan mendongkrak performa tim yang sedang rapuh seperti yang telah ia lakukan di Porto, Atletico, dan Monaco sebelumnya?” Patut kita nantikan!!!